Melihat komputer tua tersimpan di dalam gudang, saya jadi teringat masa lalu bersamanya. Bip, bip, bip, begitulah suaranya sering terdengar saat ia berhenti bekerja, hang. Sumber suara bip..bip.. berasal dari speaker kecil yang ada di bagian dalam casing komputer.
Namun 20 tahun lalu, saat soundcard dan aksesoris multimedia lain belum ada dan sistem operasi DOS sedang meraja, suara bip..bip.. inilah yang menghibur. :D Menggunakan interupsi 8 komputer :(, pemrogram dapat mengubah-ubah frekuensi keluaran speaker sehingga terbentuk tangga nada. Menyusunnya dengan cermat akan menghasilkan suara alunan musik. Agak bergetar, namun lumayan menghibur. Suaranya benar-benar mirip dengan suara jangkrik di malam hari. Saya, saat itu sangat menyukai proses pemrogrammannya, meski harus teliti dan sabar karena ditulis dalam bahasa assembly 8086. Saat itu jangan berharap mendengar alunan lagu bersuara merdu karena teknologi rekam digital masih sangat terbatas.
Sekitar tahun 1991, 17 tahun lalu, surprise sekali saat mendapat aplikasi ModPlay buatan Mark J. Cox. Speaker yang kecil dapat mengeluarkan musik yang lumayan kompleks. File musiknya dalam format .MOD, MP3 belum ditemukan, yang banyak beredar adalah file berjenis .MID, file MIDI. Struktur file .MOD tidak sesederhana file MIDI. File MOD umumnya memiliki 4 kanal digital dengan maksimal 15 jenis instrument. 4 kanal digital ini berisi kode-kode perintah yang akan membuat instrument bernada, berefek dll. Suara instrument merupakan suara hasil rekam digital (sampling) dari instrument analog, biasanya hanya dalam beberapa mili detik. ModPlay memainkan file format .MOD dengan sangat baik.
Bila tidak memiliki soundcard, ModPlay dapat mengeluarkan suara lewat speaker kecil komputer atau yang lebih baik,lewat jalur printer 25 pin. Bila lewat jalur printer maka harus dirakit alat sederhana yang terdiri dari barisan resistor yang berfungsi sebagai alat konversi dari sinyal digital ke analog. Keluarannya dapat langsung dihubungkan ke amplifier mini dan musikpun akan terdengar lebih keras.
Untuk meng-compose musik, Mark J Cox menyertakan juga ModEdit, aplikasi editor untuk meng-create atau meng-edit file .MOD. Dengan ModEdit membuat musik menjadi mudah, efek-efek instrument yang dimilikinya juga lumayan banyak, delay, vibrato, tremolo, slide-up, slide-down, slide to note dll.
Tahun-tahun berikutnya, lebih banyak keluar format-format baru file musik, seperti .XM Fast Tracker, .ULT Ultra Tracker, .IT Impulse Tracker, STM dan S3M Scream Tracker, .MTM Multi Tracker dll. Meski masing-masing tracker memiliki kelebihan namun struktur file dan cara kerjanya mirip dengan file .MOD.
Banyaknya tipe file musik mendorong beberapa pemrogram membuat library agar pemogram lain lebih mudah membuat aplikasi musik. Contohnya library MikMod yang dibuat oleh Jean-Paul Mikkers yang mendukung beberapa format musik termasuk MOD, IT, S3M dan XM.
Di jaman Windows ini :) sangat mudah bagi pemusik untuk membuat musik. Salah satu aplikasi tracker yang bagus adalah FL Studio atau yang lebih dikenal dengan Fruity Loops. Fruity Loops merupakan versi tracker masa kini pengganti tracker-tracker format MOD, S3M, XM, IT.
Selamat ber-tracker ria... Bip..bip.. :D
Tampilkan postingan dengan label Komputer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Komputer. Tampilkan semua postingan
Rabu, 22 Oktober 2008
Kamis, 16 Oktober 2008
Memanfaatkan Google Translator
Beberapa hari ini saya melihat ada yang baru di Google.com, terdapat link tambahan pada baris kanan hasil pencarian : [Terjemahkan laman ini], yang saat diklik akan mengubah web aslinya dalam bahasa Inggris menjadi web dalam bahasa Indonesia. Surprise, saya jadi lebih mudah membaca artikel-artikel yang didapat Google.com.
Pagi ini, karena masih lapang waktu, saya mencoba menterjemahkan www.cnn.com ke dalam bahasa Indonesia dengan teknik sederhana. Awalnya saya memperoleh link terjemah berikut dari Google.com, saat mencari artikel berkenaan dengan Professor Nouriel Roubini, berikut link yang saya peroleh : http://72.14.235.104/translate_c?hl=id&sl=en&u=http://www.rgemonitor.com/blog/roubini&prev=/search%3Fq%3Dnouriel%2Broubini%26hl%3Did%26sa%3DG%26pwst%3D1&usg=ALkJrhgQuJjPNQVpksCF9Z495XxE5SFTqQ , panjang dan kelihatannya rumit.
Saya mulanya hanya mengira-ngira saja, ternyata benar adanya, bahwa server penterjemah antar bahasa ada di http://72.14.235.104/ dengan aplikasi translate_c, dengan parameter source language sl , tujuan bahasa hl dan u untuk url yang akan diterjemahkan. Misalnya kita ingin mengubah tampilan www.cnn.com ke dalam bahasa Indonesia maka kita cukup mengetik pada browser : http://72.14.235.104/translate_c?sl=en&hl=id&u=http://www.cnn.com. Hasilnya, hop... www.cnn.com dalam bahasa Indonesia. :D
Meski hasil terjemahnya masih belum maksimal namun sangat membantu dalam menterjemahkan artikel-artikel 'sulit' dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa kita, bahasa Indonesia.
Selamat mencoba dan selamat menterjemahkan artikel-artikel pada web lainnya.
Wassalam.
Pagi ini, karena masih lapang waktu, saya mencoba menterjemahkan www.cnn.com ke dalam bahasa Indonesia dengan teknik sederhana. Awalnya saya memperoleh link terjemah berikut dari Google.com, saat mencari artikel berkenaan dengan Professor Nouriel Roubini, berikut link yang saya peroleh : http://72.14.235.104/translate_c?hl=id&sl=en&u=http://www.rgemonitor.com/blog/roubini&prev=/search%3Fq%3Dnouriel%2Broubini%26hl%3Did%26sa%3DG%26pwst%3D1&usg=ALkJrhgQuJjPNQVpksCF9Z495XxE5SFTqQ , panjang dan kelihatannya rumit.
Saya mulanya hanya mengira-ngira saja, ternyata benar adanya, bahwa server penterjemah antar bahasa ada di http://72.14.235.104/ dengan aplikasi translate_c, dengan parameter source language sl , tujuan bahasa hl dan u untuk url yang akan diterjemahkan. Misalnya kita ingin mengubah tampilan www.cnn.com ke dalam bahasa Indonesia maka kita cukup mengetik pada browser : http://72.14.235.104/translate_c?sl=en&hl=id&u=http://www.cnn.com. Hasilnya, hop... www.cnn.com dalam bahasa Indonesia. :D
Meski hasil terjemahnya masih belum maksimal namun sangat membantu dalam menterjemahkan artikel-artikel 'sulit' dalam bahasa Inggris ke dalam bahasa kita, bahasa Indonesia.
Selamat mencoba dan selamat menterjemahkan artikel-artikel pada web lainnya.
Wassalam.
Senin, 22 September 2008
SDR
Beberapa hari ini, saya dan Dewan sedang mengembangkan perangkat keras Software Defined Radio (SDR), teknik terakhir dalam menangkap gelombang radio. Meski perangkat ini masih dalam pengembangan dan masih menunjukkan performansi yang minimal, namun saya ingin berbagi sedikit mengenai teknologi SDR ini.
Radio penerima pada umumnya bekerja secara analog untuk menghasilkan gelombang yang disebut IF, Intermediate Frequency. Gelombang IF selanjutnya diproses untuk menghasilkan gelombang suara. Pada penerima radio FM stereo, gelombang IF diproses untuk menghasikan gelombang multiplexer (MPX), yang berisi sinyal audio kanan dan kiri serta sinyal 19 Khz sebagai sinyal penanda stereo atau mono. Sinyal MPX ini selanjutnya akan di-decode untuk menghasilkan sinyal audio stereo.
Radio SDR memiliki kerja yang lebih sederhana, sinyal dari antena dilewatkan ke modul band pass filter untuk selanjutnya di-mix dengan sinyal osilator secara digital. Hasil pencampuran ini selanjutnya diproses untuk menghasilkan sinyal Quadrature berisi sinyal I dan Q. Keluaran sinyal ini selanjutnya dihubungkan ke port line-in sound-card komputer. Sinyal Quadrature ini akan dicuplik oleh aplikasi radio SDR untuk diolah menjadi suara. Aplikasi SDR umumnya bersifat freeware, diantaranya Winrad dan PowerSDR untuk Windows dan Linrad untuk Linux.
SDR sangat disukai penggemar radio disebabkan oleh kesederhanaan perangkatnya. Dengan menggunakan beberapa komponen sederhana seperti IC jenis 74HC4066, 74AC74, NE5532 plus beberapa kapasitor, resistor dan coil maka jadilah penerima SDR. Biaya pembuatannya relatif tidak mahal, tidak sampai tujuh puluh lima ribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk osilator lokal, band-pass filter, plus preamp RF. Antena dapat dibuat dari kawat email dengan panjang minimal 15 meter setinggi minimal 7 meter.
Selamat ber-SDR ria.
Radio penerima pada umumnya bekerja secara analog untuk menghasilkan gelombang yang disebut IF, Intermediate Frequency. Gelombang IF selanjutnya diproses untuk menghasilkan gelombang suara. Pada penerima radio FM stereo, gelombang IF diproses untuk menghasikan gelombang multiplexer (MPX), yang berisi sinyal audio kanan dan kiri serta sinyal 19 Khz sebagai sinyal penanda stereo atau mono. Sinyal MPX ini selanjutnya akan di-decode untuk menghasilkan sinyal audio stereo.
Radio SDR memiliki kerja yang lebih sederhana, sinyal dari antena dilewatkan ke modul band pass filter untuk selanjutnya di-mix dengan sinyal osilator secara digital. Hasil pencampuran ini selanjutnya diproses untuk menghasilkan sinyal Quadrature berisi sinyal I dan Q. Keluaran sinyal ini selanjutnya dihubungkan ke port line-in sound-card komputer. Sinyal Quadrature ini akan dicuplik oleh aplikasi radio SDR untuk diolah menjadi suara. Aplikasi SDR umumnya bersifat freeware, diantaranya Winrad dan PowerSDR untuk Windows dan Linrad untuk Linux.
SDR sangat disukai penggemar radio disebabkan oleh kesederhanaan perangkatnya. Dengan menggunakan beberapa komponen sederhana seperti IC jenis 74HC4066, 74AC74, NE5532 plus beberapa kapasitor, resistor dan coil maka jadilah penerima SDR. Biaya pembuatannya relatif tidak mahal, tidak sampai tujuh puluh lima ribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk osilator lokal, band-pass filter, plus preamp RF. Antena dapat dibuat dari kawat email dengan panjang minimal 15 meter setinggi minimal 7 meter.
Selamat ber-SDR ria.
Senin, 08 September 2008
Nostalgia Apple IIC
Mengingat Steve Wozniak tentu akan teringat Steve Jobs juga, 2 orang bersahabat pendiri Apple, perusahaan besar yang dimulai dari garasi. Ingatan saya akan Apple agaknya sulit dilupakan karena kesan yang lumayan mendalam tentang komputer mikronya, Apple IIC. Inilah komputer mikro pertama yang saya pegang, tahun 1985, 23 tahun yang lalu. Saat itu saya belajar pemrograman komputer bahasa BASIC, tepatnya MBASIC dengan komputer Apple IIC. Komputer Apple IIC tentu tidak secanggih komputer saat ini yang multi-media dengan RAM ber-gigabytes dan kecepatan yang ber-gigahertz. Apple IIC hanyalah komputer mikro dengan layar hijau, monochrome. Jadi monitornya bukan black white tapi black green.
Sistem operasinya sangat sederhana, CP/M namanya, seingat saya CP/M itu kependekan dari Control Program for Microprocessor. Media penyimpanannya juga sederhana, floopy-disk 5 1/4 inchi, besar sekali fisiknya, dengan kapasitas cuma 360 kilobyte saja, side-A 180 kbytes, side-B juga 180 kbytes. Istilah side-A dan side-B ini akhirnya dipakai juga untuk joke tentang pakaian dalam. bila stok habis silahkan pakai side-Bnya. Hehehe... Kembali ke Apple IIC, bagaimana dengan harddisk? Belum ada, sistem operasi juga masih menggunakan floopy-disk. Selesai boot, disk sistem operasi CP/M dilepas dan diganti dengan disk MBASIC, selanjutnya dipersilahkan mengetik source code. Bila selesai bekerja, source-code dan data dapat disimpan pada tempat penyimpanan yang lain. Hehehe... sangat terbatas dan lumayan ribet, tapi saat itu Apple IIC adalah komputer yang sangat baik.
Selain bahasa pemrograman, Apple IIC juga memiliki beberapa aplikasi lain, misalnya Multiplan, aplikasi spreadsheet buatan Microsoft. Hehehe.. betul, buatan Microsoft, jadi saat itu Microsoft juga membuat aplikasi untuk Apple. Multiplan bisa disebut buyutnya Excel, spreadsheet canggih dari Microsoft. PC-DOS, sistem operasi keluaran Micosoft, bekerja sama dengan IBM, saat itu belum banyak dikenal. IBM-PC masih merupakan komputer mikro yang mahal dan belum ada di Medan. RAM-nya yang 640 kilo bytes, 10 kali lipat RAM Apple IIC, menjadi pemikat bagi pengguna komputer mikro. Lembaga kursus Widyaloka memperkenalkan komputer ini di Medan satu-dua tahun kemudian.
Selain bahasa BASIC, saat itu saya sangat tertarik dengan bahasa Assembly, microprocessor 6502, otaknya komputer mikro Apple IIC. Artikel pak Onno Widodo Purbo di majalah Elektron tahun 1980-an yang menjadi pemicu saya adalah program jam digital di Apple II-C. Hebat, begitulah saya berpikir saat itu. Meski akhirnya, karena ketiadaan alat, tahun itu saya tidak menguasai bahasa assembly 6502 namun tidak menyurutkan hati untuk belajar bahasa Assembly lainnya. Bahasa Assembly 8080 dan 8086, otak komputer IBM-PC, akhirnya dikuasai 3 tahun berikutnya. AlhamduLillah, yang penting bisa bahasa Assembly. :)
Begitulah sedikit kenangan saya bersama komputer mikro Apple IIC. Ada yang masih punya? Bila tidak dipergunakan, saya bersedia menampung 1-2 unit yang masih hidup. :D
Sistem operasinya sangat sederhana, CP/M namanya, seingat saya CP/M itu kependekan dari Control Program for Microprocessor. Media penyimpanannya juga sederhana, floopy-disk 5 1/4 inchi, besar sekali fisiknya, dengan kapasitas cuma 360 kilobyte saja, side-A 180 kbytes, side-B juga 180 kbytes. Istilah side-A dan side-B ini akhirnya dipakai juga untuk joke tentang pakaian dalam. bila stok habis silahkan pakai side-Bnya. Hehehe... Kembali ke Apple IIC, bagaimana dengan harddisk? Belum ada, sistem operasi juga masih menggunakan floopy-disk. Selesai boot, disk sistem operasi CP/M dilepas dan diganti dengan disk MBASIC, selanjutnya dipersilahkan mengetik source code. Bila selesai bekerja, source-code dan data dapat disimpan pada tempat penyimpanan yang lain. Hehehe... sangat terbatas dan lumayan ribet, tapi saat itu Apple IIC adalah komputer yang sangat baik.
Selain bahasa pemrograman, Apple IIC juga memiliki beberapa aplikasi lain, misalnya Multiplan, aplikasi spreadsheet buatan Microsoft. Hehehe.. betul, buatan Microsoft, jadi saat itu Microsoft juga membuat aplikasi untuk Apple. Multiplan bisa disebut buyutnya Excel, spreadsheet canggih dari Microsoft. PC-DOS, sistem operasi keluaran Micosoft, bekerja sama dengan IBM, saat itu belum banyak dikenal. IBM-PC masih merupakan komputer mikro yang mahal dan belum ada di Medan. RAM-nya yang 640 kilo bytes, 10 kali lipat RAM Apple IIC, menjadi pemikat bagi pengguna komputer mikro. Lembaga kursus Widyaloka memperkenalkan komputer ini di Medan satu-dua tahun kemudian.
Selain bahasa BASIC, saat itu saya sangat tertarik dengan bahasa Assembly, microprocessor 6502, otaknya komputer mikro Apple IIC. Artikel pak Onno Widodo Purbo di majalah Elektron tahun 1980-an yang menjadi pemicu saya adalah program jam digital di Apple II-C. Hebat, begitulah saya berpikir saat itu. Meski akhirnya, karena ketiadaan alat, tahun itu saya tidak menguasai bahasa assembly 6502 namun tidak menyurutkan hati untuk belajar bahasa Assembly lainnya. Bahasa Assembly 8080 dan 8086, otak komputer IBM-PC, akhirnya dikuasai 3 tahun berikutnya. AlhamduLillah, yang penting bisa bahasa Assembly. :)
Begitulah sedikit kenangan saya bersama komputer mikro Apple IIC. Ada yang masih punya? Bila tidak dipergunakan, saya bersedia menampung 1-2 unit yang masih hidup. :D
Kamis, 04 September 2008
MZ (4D5A)
MZ? Saya tiba-tiba saja teringat dengan 2 huruf ini, MZ. Programmer lama, seperti saya :), biasa mengenalnya dengan 4D5A. Dua huruf ini merupakan kependekan dari nama seorang programmer lama, Mark Zibowski. Sayang sekali, saya tidak bisa menemukan kisah tentangnya pada Wikipedia, dan ini sangat aneh karena setiap kita menjalankan aplikasi apa saja pada Microsoft Windows maka Sistem Operasi harus 'melihat' apakah file yang akan dijalankan memiliki kode pertama MZ atau 4D5A. 4D5A ini merupakan kode ASCII dari huruf M (4D) dan huruf Z (5A) dalam format hexadecimal. Bila kode pertamanya 'MZ' maka Sistem Operasi akan menganggap file tersebut file yang dapat dieksekusi, bila bukan 'MZ' bisa jadi fle tersebut bukan file yang dapat dieksekusi.
Mark Zibowski seingat saya adalah seorang programmer lama di Microsoft, dengan wajah tegas, berewokan seperti penemu Apple, Steve Wozniak . Mark Zibowski inilah, sekitar lebih dari 20-an tahun lalu, yang menemukan ide pemberian tanda pada setiap awal file yang dapat dieksekusi dengan tanda 'MZ'. Ide ini dipakai hingga sekarang, compiler Delphi, Visual Basic sampai MASM akan memberikan tanda 'MZ' pada setiap awal file .EXE, .DLL yang di-create. Pemberian tanda pada awal file ini memberikan ide pada programmer lainnya untuk menggunakan cara yang sama dalam menandai file-file tertentu, misalnya file database, speadsheet, editor dll.
Tapi, kenapa saya tidak dapat menemukan Mark Zibowski di Wikipedia?
Dalam pikiran saya barangkali karena saat ini kebanyakan programmer tidak mengenal Sistem Operasi secara mendalam :) dan lebih mengenal pemrogramman dengan cara Visual, sehingga tidak pernah berhubungan dengan tanda 'MZ' sama sekali.
Terimakasih Mark Zibowski, terima kasih.
:)
Mark Zibowski seingat saya adalah seorang programmer lama di Microsoft, dengan wajah tegas, berewokan seperti penemu Apple, Steve Wozniak . Mark Zibowski inilah, sekitar lebih dari 20-an tahun lalu, yang menemukan ide pemberian tanda pada setiap awal file yang dapat dieksekusi dengan tanda 'MZ'. Ide ini dipakai hingga sekarang, compiler Delphi, Visual Basic sampai MASM akan memberikan tanda 'MZ' pada setiap awal file .EXE, .DLL yang di-create. Pemberian tanda pada awal file ini memberikan ide pada programmer lainnya untuk menggunakan cara yang sama dalam menandai file-file tertentu, misalnya file database, speadsheet, editor dll.
Tapi, kenapa saya tidak dapat menemukan Mark Zibowski di Wikipedia?
Dalam pikiran saya barangkali karena saat ini kebanyakan programmer tidak mengenal Sistem Operasi secara mendalam :) dan lebih mengenal pemrogramman dengan cara Visual, sehingga tidak pernah berhubungan dengan tanda 'MZ' sama sekali.
Terimakasih Mark Zibowski, terima kasih.
:)
Langganan:
Postingan (Atom)