Saat bernostalgia membuat radio AM (MW/SW) 2 hari lalu, kami secara tidak sengaja menangkap siaran radio berbahasa Indonesia yang disiarkan dari Saudi Arabia. Surprise bagi saya, karena umumnya radio berbahasa Indonesia umumnya disiarkan oleh negara-negara non-muslim seperti BBC London, Radio Australia, Suara Amerika, Deutsch Welle, Radio Cina dan lain-lain. Saya tidak tahu sudah berapa lama Saudi Arabia menyiarkan radio siaran berbahasa Indonesia, karena saya sudah lebih 10 tahun tidak mendengarkan siaran pada gelombang Short Wave (SW). Meski siaran di gelombang SW ini hilang dan timbul seperti dibawa angin, namun gelombang ini, belasan tahun lalu, sangat saya sukai.
Dulu, saya memiliki radio JVC yang ayah beli tahun 1978, yang dapat menangkap siaran gelombang MW, SW1, SW2 dan SW3. Saat itu belum ada siaran pada gelombang FM, semua radio komersil ada pada gelombang MW. Siaran jarak jauh, sampai ribuan kilometer ada pada gelombang SW, disiarkan dengan beragam bahasa. Tahun 1980-an, siaran yang saya sukai adalah Radio Australia dengan penyiarnya Nuim Khayat dan Ebet Kadarusman dan radio BBC dengan pelajaran bahasa Inggrisnya. Meski disiarkan hanya pada jam-jam tertentu saja, namun tidak ada hari tanpa mendengarkan kedua radio siaran ini.
Selain siaran radio luar negeri, gelombang SW juga banyak menangkap pancaran radio komunikasi seperti pada gelombang 80 meter dan 40 meter band. Keduanya sangat menginspirasi saya untuk belajar membuat pemancar radio SW gelombang 80 meter band dan bereksperimen dengannya bertahun-tahun. Meski transmitter yang saya buat tidak menjangkau sampai luar pulau disebabkan oleh dana yang tidak memadai saat itu, namun kepuasan batin akan hasilnya luar biasa.
Hari ini, saya memulai lagi nostalgia bersama radio SW. Kembali mendengarkan siaran-siaran jarak jauh dengan infomasi yang lebih berisi. Berbeda dengan radio siaran gelombang FM yang lebih mementingkan telinga, radio siaran gelombang SW lebih mementingkan informasi.
Bila rekan-rekan ingin mencoba mendengarkan siaran pada gelombang SW, silahkan mencari radio yang memiliki gelombang SW di toko elektronik. Mungkin agak sulit mencarinya, namun anggap saja sebagai proses awal perjalanan menuju gelombang SW. :D
AlhamduLillah.
Tampilkan postingan dengan label elektronik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label elektronik. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 September 2008
Senin, 22 September 2008
SDR
Beberapa hari ini, saya dan Dewan sedang mengembangkan perangkat keras Software Defined Radio (SDR), teknik terakhir dalam menangkap gelombang radio. Meski perangkat ini masih dalam pengembangan dan masih menunjukkan performansi yang minimal, namun saya ingin berbagi sedikit mengenai teknologi SDR ini.
Radio penerima pada umumnya bekerja secara analog untuk menghasilkan gelombang yang disebut IF, Intermediate Frequency. Gelombang IF selanjutnya diproses untuk menghasilkan gelombang suara. Pada penerima radio FM stereo, gelombang IF diproses untuk menghasikan gelombang multiplexer (MPX), yang berisi sinyal audio kanan dan kiri serta sinyal 19 Khz sebagai sinyal penanda stereo atau mono. Sinyal MPX ini selanjutnya akan di-decode untuk menghasilkan sinyal audio stereo.
Radio SDR memiliki kerja yang lebih sederhana, sinyal dari antena dilewatkan ke modul band pass filter untuk selanjutnya di-mix dengan sinyal osilator secara digital. Hasil pencampuran ini selanjutnya diproses untuk menghasilkan sinyal Quadrature berisi sinyal I dan Q. Keluaran sinyal ini selanjutnya dihubungkan ke port line-in sound-card komputer. Sinyal Quadrature ini akan dicuplik oleh aplikasi radio SDR untuk diolah menjadi suara. Aplikasi SDR umumnya bersifat freeware, diantaranya Winrad dan PowerSDR untuk Windows dan Linrad untuk Linux.
SDR sangat disukai penggemar radio disebabkan oleh kesederhanaan perangkatnya. Dengan menggunakan beberapa komponen sederhana seperti IC jenis 74HC4066, 74AC74, NE5532 plus beberapa kapasitor, resistor dan coil maka jadilah penerima SDR. Biaya pembuatannya relatif tidak mahal, tidak sampai tujuh puluh lima ribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk osilator lokal, band-pass filter, plus preamp RF. Antena dapat dibuat dari kawat email dengan panjang minimal 15 meter setinggi minimal 7 meter.
Selamat ber-SDR ria.
Radio penerima pada umumnya bekerja secara analog untuk menghasilkan gelombang yang disebut IF, Intermediate Frequency. Gelombang IF selanjutnya diproses untuk menghasilkan gelombang suara. Pada penerima radio FM stereo, gelombang IF diproses untuk menghasikan gelombang multiplexer (MPX), yang berisi sinyal audio kanan dan kiri serta sinyal 19 Khz sebagai sinyal penanda stereo atau mono. Sinyal MPX ini selanjutnya akan di-decode untuk menghasilkan sinyal audio stereo.
Radio SDR memiliki kerja yang lebih sederhana, sinyal dari antena dilewatkan ke modul band pass filter untuk selanjutnya di-mix dengan sinyal osilator secara digital. Hasil pencampuran ini selanjutnya diproses untuk menghasilkan sinyal Quadrature berisi sinyal I dan Q. Keluaran sinyal ini selanjutnya dihubungkan ke port line-in sound-card komputer. Sinyal Quadrature ini akan dicuplik oleh aplikasi radio SDR untuk diolah menjadi suara. Aplikasi SDR umumnya bersifat freeware, diantaranya Winrad dan PowerSDR untuk Windows dan Linrad untuk Linux.
SDR sangat disukai penggemar radio disebabkan oleh kesederhanaan perangkatnya. Dengan menggunakan beberapa komponen sederhana seperti IC jenis 74HC4066, 74AC74, NE5532 plus beberapa kapasitor, resistor dan coil maka jadilah penerima SDR. Biaya pembuatannya relatif tidak mahal, tidak sampai tujuh puluh lima ribu rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk osilator lokal, band-pass filter, plus preamp RF. Antena dapat dibuat dari kawat email dengan panjang minimal 15 meter setinggi minimal 7 meter.
Selamat ber-SDR ria.
Langganan:
Postingan (Atom)